12. Membahagiakan Orang Tua
Dalam beberapa kali melakukan wawancara, saya lontarkan pertanyaan ini “apa cita-cita Anda?”. Ternyata ada beberapa yang menjawab “ingin membahagiakan orang tua” atau “berbakti kepada orang tua”. Sebenarnya apa ini?Ada yang ingin memberikan materi kepada orang tuanya karena sejak kecil sampai sekarang orang tuanya membanting tulang untuk membesarkan anaknya. Kehidupan orang tuanya masih susah dilihat dari sudut finansial. Jadi, jika bisa memberi materi kepada orang tua harapannya adalah akan membahagiakan orang tua. (Tolong dicek ulang karena bisa jadi sebetulnya orang tua Anda tidak berharap akan mendapat imbal balik materi.) Target ini bisa diukur dan bisa dicapai.
Ada yang lebih sulit untuk dipenuhi seperti cerita berikut ini.
Ada orang tua yang berharap anaknya bisa menjadi dokter, insinyur, atau profesional lainnya. Sayangnya anaknya sebetulnya tidak cocok untuk itu. Ada yang tidak kuat melihat darah dan tidak suka pelajaran biologi. (Bisakah menjadi dokter?) Ada yang lemah dalam hal logika dan matematika. (Bisakah menjadi insinyur?). Ada anak yang ingin menjadi seniman, tetapi orang tuanya menuntut lain. Maka tertekanlah sang anak karena merasa tidak dapat membahagiakan orang tua. Bagaimana ya? Apakah sang anak durhaka?
Ada juga yang sama sulitnya, yaitu orang tua yang berharap anaknya untuk segera mendapat jodoh dan memiliki anak. Orang tuanya sudah ingin punya cucu. Wah, ini juga menimbulkan tekanan berat (stress) kepada sang anak. Yang mau nikah itu sang anak atau orang tuanya ya? Pacar aja belum punya … Susah lagi nyari. Dimana sih stok cowok / cewek yang bagus-bagus? Apa ada tokonya? he he he.
(Yang ini saya punya saran; sering-sering bergabung dengan kelompok yang bagus-bagus karakter orangnya karena mereka akan menarik orang-orang yang berkarakter bagus pula. Jangan gabung dengan orang-orang yang dogol. Nanti dapatnya dogol juga.)
Bagaimana nanti kalau sudah dapat calon, tetapi orang tua kita atau orang tua dia tidak setuju? Apakah kita rela mengorbankan kebahagiaan diri demi kebahagiaan orang tua? Apakah memang kita harus membahagiakan orang tua? Sanggupkah Anda bertahun-tahun hidup dalam tekanan dan kebohongan ini?
Ada yang kena dengan contoh di atas? he he he. Maapin ye. Bagi yang tidak mengalami masalah ini, Anda beruntung. Maka cepat-cepatlah Anda berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa.
Nah, sekarang saya pakai “baju” orang tua. Apa ya harapan saya dari anak-anak saya? Sederhana saja; jadi orang yang baik. Kalau mengikuti motto Google; “don’t be evil“. Satu harapan saya; anak-anak saya mau mendoakan kami, orang tuanya. Itu saja. Tentunya dengan doa yang baik, yang bisa meringankan beban saya di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar